Aksi Seru Alex Magala Bersama Pendekar Shaolin dan Magic Cube di The Sword Master Trans Studio Bandung

oleh

BANDUNG – Trans Studio Bandung menghadirkan atraksi menarik dan seru, bertajuk The Sword Master, kolaborasi antara ahli sword swallower internasional Alex Magala bersama dengan para pendekar Shaolin, Aerial Magic Cube, High Chair serta aksi tarian api Rolling Lamps.

Kolaborasi yang dirangkai dalam satu cerita tersebut, mengisahkan tentang Alex Magala yang harus melewati 4 elemen kerajaan bumi, yakni kerajaan Tanah, Api, Air dan Udara untuk menjadi seorang The Sword Master.

Aksi pertama dari alur cerita yang dirancang oleh tim kreatif show & production Trans ini, menampilkan kelihaian dan kelincahan para pendekar shaolin diatas panggung sebagai ahli beladiri kungfu, tidak hanya beraksi dengan menggunakan alat-alat seperti pedang, pisau, toya, tombak, dan lain-lain, beberapa pendekar ini juga unjuk kekuatan mematahkan lempengan besi di kepalanya. Aksi shaolin kungfu ini disaksikan pada pertunjukan perdana The Sword Master pada hari, Sabtu (23/12/2017).

Atraksi selanjutnya menampilkan kelompok sirkus internasional, High Chair. Disini, pengunjung disuguhkan aksi luar biasa para srikandi muda yang mampu meliuk-liukan kelenturan tubuhnya yang seperti karet di rangkaian besi berbentuk lingkaran-lingkaran.

High Chair di gelaran The Sword Master Trans Studio Bandung

Tidak kalah seru dan menegangkan, adalah kala para personel Aerial Magic Cube yang juga kesemua personelnya wanita, masuk keatas panggung dan menaiki rangkaian besi berbentuk kubus, kubus ini lalu ditarik keatas, dan para bidadari dengan keseimbangan yang dimiliki, unjuk kebolehan dengan mempertontonkan koreografi yang mengagumkan sambil mengubah-ubah bentuk kubus yang hanya digantung dengan tali sesuai formasi yang mereka susun.

Aerial Magic Cube di gelaran The Sword Master Trans Studio Bandung

Sebelum pertunjukan sang master pedang yang kerap muncul seusai penampilan rekan-rekannya, pengunjung disuguhi lagi satu atraksi yang seru dan berbahaya, tarian api yang dibawakan oleh Rolling Lamps. Pada atraksi ini, bola-bola api berputar-putar cepat kian kemari melingkari para pemainnya.

Adegan terakhir dan yang ditunggu adalah menampilkan adegan yang paling menegangkan dan berbahaya, yaitu aksi menelan pedang. Alex Magala yang merupakan seorang ahli Sword-swallower dari Rusia ini melakukan aksi sambil mempertunjukan tarian yang dilakukannya pada sebuah tiang atau biasa dinamakan dengan Pole Dance.

Alex Magala di gelaran The Sword Master Trans Studio Bandung

Untuk menghilangkan ketegangan saat menonton, disetiap sesi atraksi ditampilkan dua orang lelaki yang perilakunya kocak naik keatas panggung. Mereka mampu menghibur penonton dengan aksi-aksi mereka yang konyol.

Keseluruhan aksi itu hanya bisa kita saksikan di Amphitheatre Trans Studio Bandung, dari mulai tanggal 23 Desember 2017 sampai dengan tanggal 1 Januari 2017, sirkus internasional tersebut setiap harinya dimulai pukul 12.00 Wib. Dan khusus untuk periode liburan 16 Desember 2017 – 7 Januari 2018, harga tiket masuk Trans Studio Bandung dibanderol dengan harga Rp 280 ribu. Harga tersebut sudah termasuk bermain di semua wahana dan menyaksikan semua pertunjukan.

The Sword Master, Hiburan Keluarga Kelas Dunia di Akhir Tahun 2017

Manajemen Trans Studio Bandung sebelum aksi perdana The Sword Master, menggelar konferensi pers di salasatu sudut ruang Trans Studio Bandung, menghadirkan Alex Magala, General Manager Bussiness Trans Studio Bandung Nursyasan Ibrahim dan Hilman selaku Show & Production.

Nursyasan Ibrahim pada kesempatan itu menyebutkan, “Apa sih yang ada di Trans Studio Bandung untuk mengisi liburan? Kita memanggil international circus. Tahun lalu juga kita mengadakan acara yang hampir sama, dan responnya luar biasa dari masyarakat,” ujarnya. Ditambahkan olehnya, “Oleh karena itu kami memanggil performer internasional yang bikin jantung deg-degan,” ucapnya sambil tersenyum.

Menurutnya, pertunjukan yang disajikan ini bisa dinikmati untuk keluarga dan anak-anak.

Dilanjutkan oleh Hilman, “Kami percaya bahwa manajemen mendatangkan para performer hebat dan profesional,” terangnya. Ia mengungkapkan, di gelaran ini, kata Hilman, kami coba untuk diolah lagi menjadi satu pertunjukan kolaborasi, dan mereka ternyata antusias mengikuti apa yang dirancang tim kreatif.

“Gambaran besarnya, Alex Magala ini memerankan seorang yang ingin menjadi The Sword Master, dan perjalanan the journey of Alex ini akan melewati kerajaan-kerajaan Tanah, Air, Api dan Udara. Semuanya diolah oleh tim Trans Studio Bandung,” jelasnya.

Diungkapkan lagi oleh Hilman, proses latihan kolaborasi ini berjalan singkat, hanya dalam waktu kurang dari dua hari, “Intinya, kita tidak ingin alur pertunjukan ini berganti begitu saja, tapi ada alur cerita yang mengalir,” terang Hilman.

Giliran Alex Magala, lelaki kelahiran Moldova tahun 1989 namun fasih berbahasa Inggris yang mudah dicerna ini, mengatakan pada konferensi pers tersebut, “Kisah perjalanan The Sword Master yang melewati 4 elemen ini, saya merasa menjadi tokoh dalam sebuah film, dan saya menjadi pemeran utamanya. Saya disini merasa jadi seorang hero. Ini hal baru bagi saya dan ini menyenangkan buat saya, karena sebelumnya saya perform sendirian,” ujar Alex yang mengaku berlatih menjadi swallower sword selama 3 hingga 5 tahun dan juga pernah berlatih beladiri Jiujitsu serta mix martial art.

GM Business Trans Studio Bandung Nursyasan Ibrahim, Alex Magala, dan Show & Production Hilman, saat konferensi pers terkait dengan gelaran The Sword Master, Sabtu (23/12/2017).
Foto (ki-ka) : GM Business Trans Studio Bandung Nursyasan Ibrahim, Alex Magala, dan Show & Production Hilman, saat konferensi pers terkait dengan gelaran The Sword Master di Trans Studio Bandung, Sabtu (23/12/2017).

Pada wawancara terpisah dengan sorotindonesia.com sebelum konferensi pers, Alex mengaku feel amazing bisa berada di Bandung dan di Indonesia. “Indonesia adalah tempat favorit saya untuk perform sejauh ini, saya suka dengan penerimaan masyarakat disini,” ucapnya.

Saat ditanya lebih jauh kenapa ia memilih sword swallower yang cukup berbahaya, Alex menjawab, “Saya memilih sword swallower karena ini adalah sesuatu yang merupakan favorit bagi saya dan juga menjadi favorit bagi masyarakat untuk menontonnya,” jawab Alex diplomatis. [St]

Comments

comments