Agenda INDOHUN, Kolonel Inf Yusep Sudrajat Sampaikan Materi Strategi Negosiasi Dan Advokasi Dalam Pelestarian Sungai Citarum

oleh

SOROTINDONESIA.COM, Bandung,- Dansektor 21 Satgas Citarum Kolonel Inf Yusep Sudrajat menjadi salasatu penceramah di acara kegiatan Global Health Leaders : One Health in Action yang diselenggarakan oleh INDOHUN (Indonesia One Health University Network) di Hotel Aston Tropicana, Jl. Cihampelas, Kota Bandung, Kamis (6/9/2018).

Materi yang disampaikan oleh Kolonel Inf Yusep Sudrajat yakni Strategi Negosiasi dan Advokasi Dalam Pelestarian Sungai Citarum. Mengawali pemaparannya, Dansektor 21 tersebut menjelaskan tentang permasalahan-permasalahan yang dihadapi Sungai Citarum dari hulu hingga ke hilir saat TNI masuk dalam Program Citarum Harum yang dicanangkan oleh pemerintah. “Sampah permukaan, limbah domestik dan industri, kotoran hewan dan manusia, bangunan dibantaran sungai serta alih fungsi hutan di kawasan hulu adalah beberapa permasalahan yang dihadapi oleh Sungai Citarum yang menjadi urat nadi bagi sekitar 27 juta warga di Jawa Barat dan DKI Jakarta,” ujar Yusep.

Dijelaskan oleh Yusep, “Melalui Perpres No. 15 tahun 2018, TNI bertanggungjawab untuk pengendalian dan penataan ekosistem di DAS Citarum. Persoalan sampah permukaan kini sudah 90 persen teratasi. Tetapi sampah yang ada di masyarakat masih terkendala dengan keterbatasan jumlah TPS dan armada pengangkut serta TPA. Itu harus kita pahami, karena itu masalahnya. Sampah ribuan ton per hari dari Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kota Cimahi dan Kabupaten Bandung Barat semuanya dibuang ke satu TPA di Sarimukti. Diperkirakan TPA Sarimukti baru bisa menampung 20 persen dari total keseluruhan sampah. Saya bahkan sempat menemukan di wilayah Baleendah ada tumpukan sampah didalam gang yang banyaknya hampir setinggi rumah. Dan dari keterbatasan TPS sehingga masih ditemukan sampah ditumpuk di bantaran Sungai Citarum,” ungkap Yusep.

“Banjir juga menjadi perhatian, karena bisa berdampak munculnya beragam penyakit. Persoalan lainnya adalah keramba jaring apung di 3 waduk, Saguling, Cirata dan Jatiluhur. Pakan ikan yang menumpuk didasar waduk, satu kali waktu menimbulkan zat-zat tertentu yang bisa membunuh ikan. Saya imbau juga untuk tidak mengkonsumsi dahulu ikan dari waduk-waduk tersebut, karena sudahmengandung bakteri dan¬†terkontaminasi limbah yang masuk ke waduk,” ujar Yusep.

Diterangkan lebih lanjut oleh Yusep, “Limbah industri ini bahayanya luar biasa, kurang lebih ada 3.000 industri yang membuang limbahnya ke Sungai Citarum. The Silent Killer itu mampu membuat generasi kita kedepan menjadi stunting (kuntet) bila tidak diatasi. Bayangkan, sekitar 460 ribu meter kubik limbah masuk ke Citarum dan anak-anak Sungai Citarum. Teori mengatasinya adalah dengan penegakan hukum, pembangunan IPAL terpadu, pemasangan CCTV di tempat pabrik membuang limbahnya, dan pasang alat monitoring kualitas air. Namun demikian, kebanyakan itu belum tersedia. Sehingga mulai bulan April, kita laksanakan penutupan lubang saluran pembuangan limbah pabrik yang membuang hasil olahannya dalam kondisi masih kotor, berwarna, suhunya panas, dan lain-lain,” jelasnya.

Tindakan tersebut, ujar Dansektor, cukup efektif karena pabrik selanjutnya membenahi IPAL-nya. “Dari hampir 50 pabrik yang saya inspeksi, rata-rata sanggup mengolah limbahnya hingga outputnya jernih. Disamping itu, pada bak indikator outlet saya sarankan untuk ditanami ikan koi. Jika ikan itu hidup, berarti olahan limbahnya yang dibuang ke sungai sudah tidak membahayakan ekosistem,” terang Yusep.

Tentang bangunan di bantaran sungai yang secara sukarela dibongkar sendiri oleh pemiliknya, diuraikan oleh Yusep, “Bangunan yang dibongkar disepanjang bantaran sungai, pembenahan IPAL pabrik, dan edukasi kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah ke sungai, itu dilakukan komunikasi dari hati ke hati. Masyarakat juga bisa paham, asal kita juga bekerja secara jujur dan ikhlas. Karena masyarakat juga akan menilai,” pesan Yusep.

Gelaran Global Health Leaders : One Health in Action yang diselenggarakan INDOHUN ini dilaksanakan dari tanggal 2-6 September 2018. Sebelumnya, pada tanggal 4 September 2018 para peserta yang terdiri dari pegawai dari berbagai dinas, praktisi kesehatan, dan peneliti ini mengunjungi Cibaligo, Cimahi, untuk mempelajari kualitas air sungai di wilayah Sektor 21 Satgas Citarum Subsektor 21-13 untuk mengetahui kualitas kelayakan air di daerah pemukiman warga yang selanjutnya akan dianalisis guna menyusun rencana aksi yang melibatkan dinas pendidikan, kesehatan, lingkungan hidup di wilayah terkait.

Penelitian ini selain melibatkan lembaga riset dari UI dan ITB, juga melibatkan Dr. William dari Medicuss Group. Profesor Agus Soewandono bersama tim mengadakan wawancara ke sebanyak 20 kepala keluarga di sekitar bantaran Sungai Cibaligo, didampingi anggota Satgas Subsektor 21-13.

Ditemui oleh wartawan disela kegiatan di Hotel Aston Tropicana, Profesor Wiku Adisasmito selaku koordinator Indohun serta Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menjelaskan, Indohun ini adalah jejaring universitas negeri di Indonesia, dari 20 universitas dari Sabang sampai Merauke, dan ada 34 Fakultas Kesehatan yakni Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kedokteran dan Kedokteran Hewan. “Jadi, kami ini sebagai asosiasi universitas yang berkecimpung di bidang kesehatan yang bekerjasama dengan lintas disiplin ilmu dan lintas sektor,” terangnya.

Ketertarikan pihaknya untuk meneliti Citarum, diungkapkan oleh Profesor Wiku, “Kami melihat masalah di Citarum ini adalah masalah yang kompleks, salasatu aspeknya adalah dampak kesehatan. Maka dari itu kami mencoba untuk berkontribusi dari sisi universitas, untuk membantu menyelesaikan masalah di Citarum Harum,” ujarnya.

“Kami melihat banyak pihak dari pemerintah, swasta, maupun TNI dan Polri, kerjasamanya dalam hal ini ada kendala. Jadi kami berusaha untuk membantu, salasatunya adalah kami membuat program pelatihan yang disebut One Health Smart, di mana kita mencoba untuk mendidik dan melatih profesional muda khususnya dari pemerintah daerah dari dinas-dinas yang menangani tentang Citarum. Diantaranya Dinas Kesehatan, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan juga mungkin dari dinas-dinas lainnya yang terkait, termasuk pertanian,” jelas Profesor Wiku.

Ditambahkannya, “Harapannya mereka ini adalah kader dalam pemerintahan yang mampu untuk menyelesaikan masalah yang kompleks ini secara bersama-sama. Itulah tujuan kami untuk melatih mereka. Yang ikut pelatihan kali ini ada 5 dari 12 kabupaten dan kota yang dilintasi Sungai Citarum. Karena ini program jangka panjang dan kami adalah bagian untuk men-support kegiatan ini agar masalah di Citarum benar-benar bisa tuntas seperti yang dicanangkan oleh Presiden RI Joko Widodo”.

“Selain itu, kami juga akan mengadakan kegiatan 5K Run di Bandung, untuk meningkatkan awareness masyarakat terhadap pentingnya Citarum ini. Karena polusi itu juga berasal dari kegiatan masyarakat, baik kegiatan sehari-hari, pertanian, juga industri,” pungkas Profesor Wiku. [St]

Profesor Wiku Adisasmito selaku koordinator Indohun serta Ketua Dewan Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia
Profesor Wiku Adisasmito

Comments

comments