4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

Pemenggalan terhadap seorang sandera asal Kanada oleh kelompok Abu Sayyaf membuat nyawa 21 sandera kini berada di ujung tanduk. Mereka membuktikan ancamannya, jika tak segera dibebaskan, bukan tidak mungkin 14 sandera asal Indonesia turut dihabisi.

Indonesia kini menggandeng dua negara tetangganya, yakni Malaysia dan Filipina untuk mengatasi aksi pembajakan dan penculikan. Salah satunya dengan menggelar patroli bersama dan mengamankan kapal-kapal yang melintas di sekitar Kepulauan Sulu.

Indonesia juga telah menyiapkan opsi militer, namun upaya ini masih terhambat kebijakan dalam negeri Filipina. Mereka menolak militer asing masuk, dan sembari mengumbar janji bakal membebaskan seluruh sandara.

Operasi-operasi militer untuk membebaskan sandera sudah sering terjadi di seluruh dunia. Apalagi, kasus penyanderaan bukan berita baru. Indonesia menjadi salah satu negara yang paling sukses menggelar operasi pembebasan sandera, mulai dari Thailand dan Mapenduma.

4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

1. Operasi Entebbe

 1. Operasi Entebbe Merdeka.com - Penyanderaan dimulai ketika dua orang Front Pembebasan Palestina (PFLP) dan dua orang berkebangsaan Jerman membajak pesawat Air France penerbangan 139 yang baru saja terbang dari Tel Aviv, Israel menuju ke Athena, Yunani pada Juni 1976. Pesawat tersebut membawa 246 penumpang, kebanyakan Yahudi dan Israel, serta 12 orang kru. Setelah berhasil menguasai pesawat, para pelaku lantas mengalihkan penerbangan menuju Libia, di tempat itu pesawat sempat mengisi ulang bahan bakar selama tujuh jam. Mereka sempat melepas warga Israel kelahiran Inggris, Patricia Martell. Memasuki tengah malam, pesawat kembali lepas landas dan mendarat di Bandara Entebbe, Uganda. Pemerintah Uganda malah menyambut para pembajak dan melindungi mereka. Di bawah perlindungan pasukan pemerintah, mereka memindahkan para penumpang dan menahan mereka selama berhari hari. Dua hari berikutnya, pembajak menuntut Israel untuk memberikan uang USD 5 juta, pembebasan 53 warga Palestina termasuk militan, dan 40 orang yang lainnya ditahan di penjara Israel. Mereka juga mengancam akan membunuh seluruh sandera. Setelah melakukan negosiasi, pemerintah Israel rupanya sudah kehabisan kesabaran. Mereka merancang opsi militer dan berusaha masuk ke Uganda secara diam-diam. Tugas itu diserahkan kepada 100 anggota unit pasukan khusus Israel di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Dan Shomron. Dengan menyamarkan mengubah identitas pesawat menjadi pesawat kargo, pasukan Israel berhasil masuk ke bandara tanpa diketahui. Ketika memasuki tengah malam, pasukan mulai menyerbu. Beberapa tentara Uganda ditembak mati, para sandera segera dibawa menuju pesawat. Namun, operasi yang seblumnya senyap berubah menjadi medan tempur. Pasukan Uganda yang sadar telah diserbu langsung mengepung pesawat. Namun upaya itu tak mampu menghentikan langkah pelarian yang sudah disiapkan Israel. 1 Tentara Israel tewas dalam operasi tersebut, 5 di antaranya terluka. Sedangkan seluruh sandera berhasil diselamatkan. Sementara, 7 pembajak tewas, dan Uganda kehilangan 45 tentaranya, serta 30 pesawat mereka yang dihancurkan saat operasi berjalan

Penyanderaan dimulai ketika dua orang Front Pembebasan Palestina (PFLP) dan dua orang berkebangsaan Jerman membajak pesawat Air France penerbangan 139 yang baru saja terbang dari Tel Aviv, Israel menuju ke Athena, Yunani pada Juni 1976. Pesawat tersebut membawa 246 penumpang, kebanyakan Yahudi dan Israel, serta 12 orang kru.

Setelah berhasil menguasai pesawat, para pelaku lantas mengalihkan penerbangan menuju Libia, di tempat itu pesawat sempat mengisi ulang bahan bakar selama tujuh jam. Mereka sempat melepas warga Israel kelahiran Inggris, Patricia Martell. Memasuki tengah malam, pesawat kembali lepas landas dan mendarat di Bandara Entebbe, Uganda.

Pemerintah Uganda malah menyambut para pembajak dan melindungi mereka. Di bawah perlindungan pasukan pemerintah, mereka memindahkan para penumpang dan menahan mereka selama berhari hari. Dua hari berikutnya, pembajak menuntut Israel untuk memberikan uang USD 5 juta, pembebasan 53 warga Palestina termasuk militan, dan 40 orang yang lainnya ditahan di penjara Israel. Mereka juga mengancam akan membunuh seluruh sandera.

Setelah melakukan negosiasi, pemerintah Israel rupanya sudah kehabisan kesabaran. Mereka merancang opsi militer dan berusaha masuk ke Uganda secara diam-diam. Tugas itu diserahkan kepada 100 anggota unit pasukan khusus Israel di bawah kepemimpinan Brigadir Jenderal Dan Shomron.

Dengan menyamarkan mengubah identitas pesawat menjadi pesawat kargo, pasukan Israel berhasil masuk ke bandara tanpa diketahui. Ketika memasuki tengah malam, pasukan mulai menyerbu. Beberapa tentara Uganda ditembak mati, para sandera segera dibawa menuju pesawat.

Namun, operasi yang seblumnya senyap berubah menjadi medan tempur. Pasukan Uganda yang sadar telah diserbu langsung mengepung pesawat. Namun upaya itu tak mampu menghentikan langkah pelarian yang sudah disiapkan Israel.

1 Tentara Israel tewas dalam operasi tersebut, 5 di antaranya terluka. Sedangkan seluruh sandera berhasil diselamatkan. Sementara, 7 pembajak tewas, dan Uganda kehilangan 45 tentaranya, serta 30 pesawat mereka yang dihancurkan saat operasi berjalan.

2. Operasi Woyla
4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

Drama penyanderaan pesawat Garuda GA-206 ‘Woyla’ rute Jakarta-Medan itu dimulai Sabtu 28 Maret 1981. Setelah transit di Palembang, tiba-tiba seorang pria berpistol memasuki ruangan kokpit. Intelijen Indonesia menyebut kelima orang pembajak berasal dari kelompok Komando Jihad. Mereka adalah Zulfikar T Djohan Mirza, Sofyan Effendy, Wendy Mohammad Zein, Mahrizal dan Mulyono.

Pembajak menuntut pemerintah Indonesia membebaskan 80 anggota Komando Jihad yang dipenjara karena beberapa kasus. Antara lain penyerangan Mapolsek Pasir Kaliki, Teror Warman di Raja Paloh dan aksi lainnya sepanjang 1978-1980. Selain itu, mereka juga meminta uang USD 1,5 juta.

Tanggal 30 Maret 1981 pasukan Kopassus bertolak ke Bangkok. Sambil menunggu jam ‘J’ mereka terus berlatih. Ketika itu, pemerintah Thailand belum menyetujui permintaan Indonesia untuk menggelar operasi militer dan membebaskan sandera. Akhirnya lampu hijau diberikan pemerintah Thailand.

Pasukan Komando Indonesia diberi izin melakukan operasi militer di Bandara Don Muang. Disepakati waktu penyerangan adalah jam 03.00. Namun diputuskan waktu penyerangan dimajukan. Dengan sigap para prajurit itu melakukan tugasnya. Lima orang pembajak ditembak mati. Tak ada satu pun sandera yang terluka.

Namun Kapten Pilot Herman Rante dan seorang anggota Kopasandha, Capa Ahmad Kirang juga tertembak. Mereka meninggal beberapa hari kemudian saat dalam perawatan. Seluruh pasukan antiteror mendapat Bintang Sakti. Sebuah penghargaan tertinggi dalam dunia militer Indonesia. Mereka juga mendapat kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat.

3. Operasi Mapenduma
4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

Peristiwa ini terjadi pada 8 Januari 1996. Ketika itu, 26 anggota Tim Ekspedisi Lorentz 95 diculik oleh sayap militer Organisasi Papua Merdeka yang dipimpin Kelly Kwalik. Tim ekspedisi ini beranggotakan warga negara Inggris, Belanda maupun Indonesia. Ratusan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) pimpinan Daniel Yudas Kogoya menculik mereka dari base camp.

Baca:   Eks Teroris Ungkap Biaya Pembebasan WNI

Selama 130 hari, OPM menyandera mereka. Komandan OPM Kelly Kwalik berusaha menukar 12 sandera itu dengan kemerdekaan Papua. Karena melibatkan warga negara asing, peristiwa ini jadi sorotan internasional. Selama dalam penyanderaan, para sandera digiring blusukan ke belantara Papua. Mereka tak mendapat cukup makanan, sehingga beberapa orang sakit.

Mabes TNI menggelar satgas untuk membebaskan sandera di Mapenduma. Komandan Jenderal Kopassus Brigjen Prabowo Subianto ditunjuk menjadi komandan. Tim Kopassus yang dikerahkan berasal dari Grup 5 Antiteror. Di antara pasukan TNI lain, mereka mudah dikenali karena berpakaian hitam-hitam.

Selain itu ada pasukan Batalyon Lintas Udara Kostrad 330 dan pasukan penjejak yang terdiri dari putra-putra Irian milik Kodam Cendrawasih. Total pasukan yang dikerahkan mencapai 600 orang.

Sesuai permintaan dunia internasional, Prabowo mempersilakan Tim International Committee of the Red Cross (palang merah internasional), melakukan perundingan. Awalnya Kelly Kwalik menunjukkan itikad baik. Mereka berniat membebaskan beberapa sandera yang sakit, termasuk Martha Klein yang sedang hamil.

Namun saat detik-detik pelepasan sandera, tiba-tiba Kelly Kwalik berubah. Dia berpidato dengan keras.

“Saya minta ubi harus dapat ubi, bukan minta ubi dikasih ketela.” Artinya jelas, kemerdekaan harga mutlak untuk Kelly. Para sandera dan tim ICRC lemas, mereka sadar perundingan yang berliku ini menempuh jalan buntu.

Maka Brigjen Prabowo langsung menggerakkan pasukan begitu mendengar lampu hijau. Pengintaian lewat udara dilakukan terus menerus. Sebuah pesawat tanpa awak yang bisa mendeteksi panas tubuh ikut digunakan. Bukan perkara mudah melacak jejak sandera di tengah belantara Papua. Tapi TNI terus menekan mereka.

OPM yang terdesak terus bergerak masuk hutan. Dalam keadaan panik, tanggal 15 Mei OPM membunuh dua anggota Tim Lorentz, Navy dan Matheis dibantai dengan kampak. Rupanya mereka berniat membunuh seluruh sandera yang berasal dari Indonesia dan hanya menyandera warga negara asing.

Untungnya sisa tim bisa melarikan diri. Mereka bertemu pasukan Linud 330 Kostrad yang telah mengikuti mereka berhari-hari. Pasukan pimpinan Kapten Agus Rochim tersebut menemukan permen dan pembalut wanita yang tercecer di hutan. Dua benda tersebut menambah keyakinan mereka tak jauh lagi dari sandera.

Tim berkekuatan 25 orang itu bermalam di hutan semalaman. Kapten Agus memanggil bala bantuan. Keesokan pagi, Tim Kopassus datang. Mereka bertugas mengamankan lokasi dan mengevakuasi jenazah Navy dan Matheis.

Setelah 130 hari disandera, para peneliti bisa menghirup napas lega. Mereka bisa pulang ke rumah dengan selamat. Prabowo dan pasukannya panen pujian dari internasional. Bukan perkara mudah membebaskan sandera di tengah hutan Papua yang begitu lebat.

4. Operasi Jaque
4 Aksi pasukan elite bebaskan sandera paling sukses sejagat

Ini merupakan operasi yang tersukses di dunia, tak ada satupun peluru yang ditembakkan kedua belah pihak. Sandera pun selamat tanpa ada yang terlukan.

Aksi penyanderaan dimulai ketika Pasukan Revolusi Kolombia (FARC) menculik 15 orang, termasuk kandidat presiden Ingrid Betancourt dan beberapa warga AS yang kemudian dilepaskan. Sebelum operasi dimulai, tentara Kolombia sudah menemukan lokasi penyanderaan saat para sandera sedang mandi di sungai.

Rupanya, pemimpin operasi, Jenderal Freddy Padilla punya ide. Di samping menggelar pasukannya mengepung wilayah tersebut, dia juga membentuk organisasi non pemerintah, yang tentunya abal-abal. Upaya negosiasi pun berlangsung, FARC yang tak sadar akan ditipu mebgikuti ajakan itu.

Untuk meyakinkan, seluruh tentara disulap menjadi warga sipil. Ada yang sebagai wartawan, pengikut gerilyawan dan relawan.

Sesuai perjanjian, para sandera dibawa pagi-pagi buta ke lokasi pertemuan, gerilyawan yang tak sadar sudah ditipu membawa mereka menuju lokasi tersebut. Tak lama, muncul dua heli Mi-17, salah satunya adalah agen, dia mengenakan kaos Che Guevara. Setelah 22 menit, para sandera masuk ke heli pasukan langsung bergerak melakukan penyerbuan.

“Kami tentara nasional, kalian sudah bebas,” kata salah satu tentara. Senjata langsung mengara ke arah gerilyawan hingga mereka menyerahkan diri.

sumber : merdeka.com

Comments

comments



Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.